AESTEES - EARTHSHAKER (2018)

KISAH BERBAGAI BELAHAN BUMI MENGGGUNCANG UMAT MANUSIA

Band: Aestees
Asal: Jakarta
Genre: Progressive Death Metal

Album Earthshaker dirilis via Sepsis Records dibawah lisensi Blackandje
Format: CD-Pro
Tahun: 2018
Track:
1. The Natives
2. Playing God In Human Vessel
3. Pogrom
4. Black Plague
5. Voluptuous Insanity
6. Chrysalis
7. Cavalry
8. Another Sword to Slain (Wakizashi)
9. Lex Talionis


Wabah hitam, cerita cavalry Mongolia, hingga kerajaan Mesir menjadi bagian dari kisah umat manusia dari berbagai belahan Bumi yang dituangkan kedalam satu konsep album Earthshaker. Penjelasan mengenai judul lagu-lagu nya terdapat pada booklet albumnya. Memang suatu ide/tema yang unik dimana menjelaskan kisah peristiwa dari sejarah beberapa negara kedalamnya. Jauh sebelum konsep genre pada albumnya, sedikit cerita Aestees ini dulu mengusung konsep Death Metal dengan mengeluarkan Demo "Fatalisme Hari Mati", kemudian berganti sedikit ke Technical Death Metal dengan mengeluarkan EP "Galactic Reborn" hingga vakum untuk sementara. Sekitar tahun 2016 mereka kembali namun tetap dengan formasi lama dan hadirnya gitaris baru dari Aspirator/Livilium ialah Krisnanda Yusuf.
Ditahun itu pula mereka mengeluarkan promo 2016 tapi sebelum itu mereka mengeluarkan single bertajuk "Elixir" dan disinilah mulai berubah dari segi musikalitas. Dilanjut dengan promo berisikan 3 lagu dan salah satu andalannya yaitu "Black Plague" dan juga menjadi salah satu tracklist di album ini. Musikalitas mereka jauh lebih dewasa serta sangat tertata rapi. Overall sound yang ditawarkan sangat balance. Distorsi mereka tidak kalah hebat dengan band luar sekelas Cynic, Pestilence, The Faceless. 
Uniknya ketiga band dedengkot Prog-Metal dicampur jadi satu dan sound dari band lokal Revenge dialbum Omega nya juga ada disini. Rekaman di studio yang memang menangani band-band berkelas yaitu Sepsis Records mereka juga mendapat arahan tentang musikalitas. Bagaimana tidak, Dari track demi track pasti menyisipkan sedikit Psychedelic dan irama Jazz dan itu juga yang menambah kesan Prog-Metal semakin kuat. Dari track pertama ibarat pembuka dimulai dengan low tempo lalu disusul vokal yang memang sangat berdistorsi dan jauh berbeda dari sebelumnya. Lanjut ke track kedua dimana sudah mulai permainan tempo cepat dan ada disisipkan solo dari David Salim (Djin) yang ikut turut serta. Nah, ditrack ketiga ini kembali memainkan low tempo jadi tidak selamanya bermain dengan tempo cepat. Ditrack keempat yang menjadi lagu andalan. Awalan lagu dengan low tempo ala Cynic dan Revenge dilanjut dengan tempo cepat. Sebelum akhir track menyisipkan sedikit nada Jazz.
 
Ditrack kelima disini featuring Daniel Mardhany (Deadsquad) yang diawal track diisi olehnya dan dibagian pertengahan track. Ditrack keenam adalah Chrysalis yang menjadi bagian Interlude dari album ini dimana dijelaskan bagian ini mengambil tema dari Indonesia. Untuk track ketujuh bercerita tentang tentara Mongolia dan disini tempo overall bermain cepat. Track kedelapan yaitu mengambil dari Akronim AESTEES dan kepanjangannya sudah dijelaskan pada judul lagu. Ditrack ini diawali dengan solo melodi dan overall ditempo cepat. dan ditrack terakhir menjadi penutup album ini overall balance antara low dan high tempo. Sound bass dan Drum kalo didengarkan mempunyai sound yang sangat balance dan sinkron dan juga bervariasi. Ditambah instrumen unik lainnya Digderidoo, Singbowl dari Joancukk. Kalau punya album Revenge - Omega pasti kalian merasakan sound padat berdistorsi yang terdapat dialbum ini juga. Bagi pendengar Cynic atau ala Psychedelic wajib punya album ini.


Personil:
Ainu Ropiq: Vokal
Bebby Fisher: Gitar
Krisnanda Yusuf: Gitar
Pagan Zulfikar: Bass
Rizal Arifin: Drum

Rate: 10/10

Comments

Popular Posts